Thursday, July 5, 2012

Air Panas Desa Banjar



liburanindo.blogspot.com | Panduan Wisata Indonesia
Pada awalnya saya mengira tempat ini lebih banyak dikunjungi oleh turis domestik atau malah turis lokal dari penduduk desa sekitar, tapi ternyata anggapan saya keliru. Walaupun dikelola dengan sederhana dibanding lokasi wisata lain di Bali dan tidak banyak dipublikasikan tempat ini ternyata mampu menarik wisatawan mancanegara yang tidak sedikit dan mereka tampak sangat menikmati tempat ini. Sebagian menyebutkan lokasinya ditengah pepohonan dan masih asri membuat mereka betah berendam dikolam ini.
Terletak di Desa Banjar yang tidak jauh kawasan Pemuteran dan berjarak sekitar 25km dari Singaraja air panas ini harus dilalui dengan berjalan kaki karena kendaraan hanya bisa masuk dan parkir tepat didepan tempat penjualan tiket. Lokasinya sangat rimbun, hijau dan asri memungkinkan kita untuk berjalan berlambat-lambat menikmati suasana. Sepanjang perjalanan yang berjarak kurang lebih 300m untuk bisa mencapai lokasi kolam terdapat banyak penjual toko souvenir khas Bali selain penjual makanan dan minuman.
Sumber air panasnya sendiri konon sudah ada sejak ratusan tahun lalu tapi hanya pada saat pendudukan Jepang sumber air ini dibenahi dan ditata. Sumber air dan kolamnya sendiri tidak terlalu jauh, dinaungi oleh pohon beringin dan diberi pagar untuk keselamatan. Mungkin agar tidak ada pengunjung atau anak-anak yang iseng sehingga bisa terperosok didalamnya.


liburanindo.blogspot.com | Panduan Wisata Indonesia

Kolam air panasnya dibagi menjadi tiga bagian dengan tingkat ketinggian yang berbeda-beda. Di kolam pertama air panas dialirkan melalui mulut delapan pancuran naga. Air panas yang mengandung sulphur juga dialirkan ke kolam utama melalui mulut lima pancuran naga. Selain itu yang tidak kalah menjadi favorit dan kadang sampai ada yang rela antri adalah kolam ketiga dimana terdapat tiga pancuran air yang dialirkan dari ketinggian 3.5m. Tingginya pancuran membuat tubuh seperti di’pijat’ oleh air sehingga pengunjung rela berlama-lama berdiri dibawah pancuran air. Rata-rata kedalaman kolam adalah 1m, memang ini bukan kolam renang tapi lebih ke kolam pemandian untuk berendam. Hanya kolam terbesar memiliki kedalaman 1-2m.
Sebagaimana tempat pemandian air panas lain, air panas di Desa Banjar ini juga dipercaya bisa menyembuhkan beberapa penyakit kulit. Suhu airnya dirasa cukup hangat untuk pancuran air yang terletak di daerah sejuk ini. Karena lokasinya ditempat terbuka pengunjung harus memakai baju renang (swimwear), tidak diperkenankan mandi tanpa busana atau mandi dengan menggunakan sabun atau shampoo dikolam. Lokasi tempat pemandian juga menyediakan ruang ganti pakaian. Ditepi lokasi kolam juga terdapat restoran buat anda sekeluarga selepas berenang atau sekedar menunggu anak-anak bermain dikolam.
Karena hanya ada tiga kolam dan hanya satu yang paling besar, bisa dibayangkan betapa padatnya tempat ini apalabila musim liburan tiba.

Museum Le Mayeur


Museum Le Mayeur ini terletak ditepi pantai Sanur, berupa bangunan dengan arsitektur Bali yang menampung kurang lebih 88 buah lukisan yang dibagi menjadi lima jenis koleksi berdasarkan media yang dipakai, yaitu Bagor (22 lukisan), Hard Boeard (25 lukisan), Trilek (6 lukisan), Kertas (7 lukisan) dan Kanvas (28 lukisan). Sebagian besar tema lukisannya adalah wanita Bali dengan bertelanjang dada. Bahkan ada yang menyebut bahwa Le Mayeur adalah Gaugin-nya Indonesia.
Tidak semua lukisan yang dipamerkan merupakan hasil karyanya selama sang pelukisanya tinggal di Bali, beberapa bahkan merupakan lukisan impresionis Le Mayeur setelah melakukan perjalanan dari Eropa, Afrika, India, Italia dan Perancis sebelum tiba di Bali. Tengok saja beberapa diantara-nya “Canal of Gindecca”, “Early Morning in the Harbour of Marseille”, “Istambul (Turkey)”, “Jaipur, India”. Dua lukisan terakhir dibuat tahun 1929.
Museum yang dinamakan sesuai dengan nama pelukisnya Adrien Jean Le Mayeur de Merpres (1880-1958) adalah pria berkebangsaan Belgia yang konon juga merupakan keturunan keluarga bangsawan. Le Mayeur menginjakkan kaki di Bali pada tahun 1932 di usia-nya yang ke 52. Rencana awalnya adalah tinggal di Bali selama 8 bulan saja sekedar untuk menggali ide dan insipirasi dalam berkarya. Le Mayeur bertemu dengan seorang gadis Bali belia bernama Ni Pollok, penari Legong yang berasal dari Desa Kelandis yang kala itu masih berusia 17 tahun (beberapa cerita bahkan menyebutkan usia Ni Pollok adalah 15 tahun waktu mereka bertemu).

liburanindo.blogspot.com | Panduan Wisata Indonesia
Anda bisa melihat banyak lukisan yang menjadikan Ni Polok sebagai model tunggalnya, sebut saja “Pollok” yang dibuat tahun 1957 diatas kanvas 75x90cm, warnanya sangat indah dan berani. Lain lagi adalah “Disekitar rumah Pollok” (1957, kanvas 75x90cm) atau “Memetik Bunga untuk sembahyang / Picking flowers” (1957, 100x120cm). Konon beberapa cerita menyebutkan selama menjadi modelnya Ni Pollok harus rela berjemur selama berjam-jam dalam kondisi cuaca yang panas tanpa boleh menggerakkan anggota tubuhnya apalagi mengeluh, padahal beberapa lukisannya dilakukan dalam keadaan bertelanjang dada. Tidak semua lukisan dibuat dengan cat minyak, ada pula yang dibuat dengan cat air dan pensil pada kanvas dan tikar jerami yang halus. Mungkin pelukisnya ingin menunjukkan masa-masa dimana kanvas juga sulit untuk diperoleh, terutama pada saat pendudukan Jepang.
Hasil lukisan yang menggunakan Ni Pollok sebagai modelnya sempat dipamerkan di Singapura dan menuai sukses pada kala itu. Selain sebagai pelukis, Le Mayuer juga pandai menarik minat pembelinya. Setelah melukis seharian pada pagi dan siang hari, malam harinya ia mengadakan beberapa pertunjukan tari-tarian untuk menarik minat pembelinya. Itu sebabnya ada bagian rumah berupa pendopo yang dijadikan tempat menerima tamu dan bersosialisasi dengan pembeli, seniman lokal atau kunjungan dari kawan dan sanak saudara. Tak dipungkiri tahun-tahunnya menetap di Bali merupakan tahun yang paling produktif dalam hidup Le Mayeur. Dikabarkan ia sempat memberikan donasi untuk Perancis, Belgia dan Inggris setelah ketiga negara itu mengalami kebangkrutan akibat perang yang berkepanjangan di tahun 1941.

liburanindoblogspot.com | Panduan Wisata Indonesia

Pada tanggal tahun 1958 Le Mayeur terpaksa kembali ke Belgia untuk mendapatkan perawatan terhadap kanker yang dideritanya, dia meninggal pada tanggal 31 Maret tahun yang sama disana. Setelah itu Ni Pollok mengelola museum itu seorang diri. Karena mereka tidak memiliki keturunan dan ahli waris, sepeninggal Ni Pollok museum ini diserahkan kepada pemerintah untuk mengelola. Tiket masuk domestik sebesar Rp 2000 (dewasa) dan Rp 1000 (anak-anak) akan dikenakan pada anda. Untuk turis asing tiket masuk dewasanya adalah Rp 5000 dan Rp 2500 untuk anak-anak. Museum ini buka pada pukul 8.00-14.00 (Senin-Kamis), 8.00-11.00 (Jumat) dan 8.00-12.30 (Sabtu).
Sangat disayangkan karena kondisi museum tidak terlalu terjaga. Konon pemerintah Belgia pernah memberikan donasi ribuan USD untuk membantu perawatan museum ini. Pencahayaan yang kurang, tidak nampak tour guide ketika ada pengunjung datang, debu di beberapa furnitur tua dan penataan dari lukisan-lukisan yang dipasang adalah beberapa hal yang bisa diperbaiki dari pengelolaan museum ini.
Bagi bukan penikmat lukisan anda tidak perlu kuatir karena bentuk bangunan yang berarsitektur Bali asli juga layak untuk dinikmati, selain itu museum ini penuh dengan koleksi pemiliknya berupa buku-buku tua, furnitur Bali dan beberapa ukiran lainnya. Ada pula toko souvenir kecil disamping bangunan utama bagi anda yang ingin sekedar membeli kenang-kenangan berupa kartu pos dan barang lainnya. Anda tidak diijinkan untuk mengambil gambar lukisan-lukisan didalam museum karena dikuatirkan akan merusak lukisan itu sendiri. Museum ini cocok sekali sebagai sarana wisata keluarga.

Museum Purbakala Trowulan


Museum Purbakala Trowulan atau yang lebih dikenal dengan Balai Penyelamatan Arca BPA Terletak di wilayah Dusun Trowulan Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Dapat dicapai menggunakan semua model transportasi melalui jalan raya Trowulan atau jalan kecamatan tepat diseberang kolam Segaran.

Museum Purbakala Trowulan didirikan oleh Kanjeng Adipati Ario Kromojoyo Adinegoro bersama Ir. Henry Maclaine Pont pada tahun 1942 dengan tujuan untuk menampung artefak hasil penelitian arkeologi di sekitar Trowulan.

Museum Purbakala Trowulan menyimpan benda-benda peninggalan purbakala dari Kerajaan Majapahit, mempunyai banyak koleksi yang mencapai lebih dari 850 buah. Koleksi yang paling dominan adalah koleksi terakota tanah liat yang dibakar.

Banyaknya jumlah koleksi yang dimiliki Museum Purbakala Trowulan maka dibutuhkan perawatan yang lebih intensif terhadap setiap jenis-jenis koleksi dimana hal ini harus diperhatikari oleh pihak pengelola museum.Wisata Di Mojokerto Surga Dunia.

Pantai Gesing




Wisata Indonesia-Pantai Gesing terletak di dusun Panjolomulyo Desa Girikarto Kecamatan Panggang Gunung kidul,Yogyakarta. perjalanan menuju Pantai Gesing dapat ditempuh dengan melalui jalan imogiri - panggang atau jalur lintas selatan gunung kidul.Bila ditempuh dariYogyakarta maka setelah memasuki Kabupaten Gunungkidul dan sampai di Gading yang berjarak kurang lebih sekitar 27 Km dari kota Yogyakarta tepatnya setelah lapangan udara Gading belok ke kanan menuju kecamatan Playen.

Mendekati masuk objek wisata pantai Gesingakan dijumpai perumahan nelayan untuk tempat tinggal nelayan yang melaut dari pantai Gesing.saat Masuk wilayah objek wisata pantai Gesing,pengunjung akan mendapatkan panorama keindahan dengan hamparan laut yang sangat luas .Di sebelahnya berderet kios-kios penjualan ikan .


Pantai Gesing masih bisa dibilang pantai perawan di karenakan disamping belum banyak orang yang menngetahui pantai Gesing ini, juga belum banyak pedagang yang melakukan usaha disini.(Wisata Gunung Kidul)Wisata Yogyakarta Surga Dunia.

Kya-Kya Surabaya



Kya-Kya Surabaya merupakan tempat yang dulunya ramai sebagai pasar malam di kawasan pecinan di bagian kota Surabaya. Di sepanjang jalan Kembang Jepun didirikan kios-kios yang menjual berbagai macam makanan baik masakan Tionghoa, makanan khas Surabaya maupun makanan lainnya. Kata kya-kya diambil dari salah satu dialek bahasa Tionghoa yang berarti jalan-jalan.

Kembang Jepun dulunya merupakan kawasan bisnis utama dan pusat kota Surabaya. Walaupun bukan menjadi kawasan utama, kawasan kya kya surabaya  tetap menjadi salah satu pusat bisnis hingga saat ini. Kawasan Kya-Kya Surabaya ini terkenal sebagai pusat perdagangan grosir, yang kemudian dikenal sebagai CBD (central business district) I Kota Surabaya.

Kembang Jepun mempunyai akar sejarah yang sangat panjang, sepanjang perjalanan Kota Surabaya. Perjalanannya penuh dengan rona-rona, sesuai warna yang dilukiskan zamannya. Sejak zaman Sriwijaya, kawasan di sekitar Kembang Jepun menjadi tempat bermacam bangsa tinggal.

Banyak pedagang asing yang menambatkan kapal-kapalnya di lokasi dimana kemudian menjadi Kota Surabaya. Di situ pulalah, perjalanan sejarah menorehkan garis membujur dari timur ke barat kota, Jalan Kembang Jepun. Tegak lurus dengan Kalimas, jalan ini juga menjadi ikon Kota Surabaya yang silih berganti tampil membawa perannya.


Pada zaman Belanda, pemerintahan saat itu membagi kawasan menjadi Pecinan di selatan Kalimas, kampung Arab dan Melayu di Utara kawasan itu, dengan Jalan Kembang Jepun sebagai pembatasnya. Bangsa Belanda sendiri tinggal di Barat Kalimas yang kemudian mendirikan komunitas "Eropa Kecil".

Jalan Kembang Jepun dulunya dinamakan Handelstraat (handel berarti perdagangan, straat artinya jalan), yang kemudian tumbuh sangat dinamis. Pada zaman pendudukan Jepang lah nama Kembang Jepun menjadi begitu terkenal, ketika banyak serdadu Jepang (Jepun) memiliki teman-teman wanita (kembang) di sekitar daerah ini. Pada era dimana banyak pedagang Tionghoa menjadi bagian dari napas dinamika Kembang Jepun, sebuah Gerbang kawasan yang bernuansa arsitektur Tionghoa pernah dibangun di sini. Banyak fasilitas hiburan didirikan, bahkan ada yang masih bertahan hingga kini, seperti Restoran Kiet Wan Kie.

Letak Kya Kya Surabaya berada di samping Jembatan Merah ataupun Jembatan Merah Plasa dan Juga Kya-Kya surabaya tidak Jauh dengan Kawasan wisata Religi Sunan Ampel.