Thursday, July 5, 2012

Museum Kereta Api Ambarawa





http://liburanindo.blogspot.com | Panduan Wisata Indonesia
Sekitar satu jam perjalanan dari rute Semarang - Yogyakarta, kita bisa berkunjung ke lokasi museum kereta api yang terletak di kota Ambarawa. Dari semua museum kereta yang pernah saya kunjungi selama berwisata di luar negeri, boleh dibilang kereta api yang terdapat di museum ini kurang terpelihara dengan baik. Hanya satu dari sekian lokomotif yang ada di museum ini masih terawat dengan baik, yakni lokomotif yang hingga sekarang masih digunakan untuk keperluan wisata secara komersial. Selebihnya, tampak terabaikan dengan membiarkannya berkarat di luar bukan didalam ruangan tertutup yang mampu melindunginya dari perubahan cuaca, seperti yang umum dilakukan oleh museum kereta api lainnya.
Sepanjang ingatan saya, secara keseluruhan kondisi stasiun (museum) kereta ini, masih terlihat terawat seperti mana kondisi saat masih 'berjaya' dimasa lalu. Halaman teras stasiun terlihat rapi, bersih dan terawat, demikian juga dinding atau bangunan fisik dari stasiun ini. Sebuah jam model kuno yang terpasang di dinding sisi atas stasiun masih bisa berfungsi dengan baik. Model jam seperti ini, dulunya umum digunakan diseluruh stasiun kereta api.

http://liburanindo.blogspot.com | Panduan Wisata Indonesia
Stasiun ini didirikan pada tahun 1873 selama pemerintahan kolonial Koningen Willem I. Sampai sekarang, beberapa ruangan dan perabot yang dulu sering digunakan selama masa tersebut, masih tampak terlihat terawat dengan baik. Anda bisa melihat bagian ruang tunggu yang masih lengkap dengan perabot meja kursi tempo dulu dan beberapa peralatan komunikasi dan kontrol jalur kereta api yang kesemuanya masih dalam kondisi baik. Sayangnya stasiun ini sudah tidak lagi berfungsi sebagai sarana transportasi umum, namun sebagai museum kereta api bisa menjadikannya lebih terawat.
Pada jaman kolonial, kereta api yang ada di stasiun ini digunakan sebagai sarana transportasi umum untuk melayani penumpang dan hasil pertanian di sekitar lokasi. Untuk melintasi area perbukitan, pada bagian tengah dari rel kereta api terdapat plat besi khusus untuk memudahkannya mendaki bukit.
http://liburanindo.blogspot.com | Panduan Wisata Indonesia
Saat ini, satu dari beberapa lokomotif tua yang ada di stasiun ini masih digunakan untuk keperluan wisata, terutama bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman naik kereta ber-loko seperti yang dulu pernah terjadi. Museum ini mengenakan biaya sebesar 3,5 juta rupiah (+/- 400 USD) untuk sebuah rute perjalanan dengan menggunakan kereta api tua yang mampu mengangkut hingga maksimum 40 orang. Perjalanan sejarah "tempo doeloe" ini menempuh jarak sekitar 20 kilometer pulang-pergi, yakni dari Stasiun Ambarawa hingga Stasiun Bedono dalam waktu tempuh +/- dua jam.
Saratnya kandungan sejarah dengan suasana stasiun kereta api jaman dulu yang masih terawat rapi, menjadikan lokasi ini cukup populer sebagai tempat untuk "pre wedding photgraphy" atau sekedar sarana jalan-jalan dengan binatang peliharaan oleh masyarakat sekitar.

Pantai Siung


Map


Cari Jalur Menuju Pantai Siung :
Dari *)cth : Malioboro  

Pantai Siung

Kecamatan Tepus Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta

Pantai Siung terletak di sebelah selatan kecamatan Tepus kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta. Pantai ini letaknya cukup terpencil dan jalanan yang harus dilalui cukup menantang. Namun, semuanya itu akan terbayarkan begitu sampai di pantai ini. 

Salah satu ciri khas dari pantai ini adalah batu karang yang cukup besar yang menjadi pembatas antara pantai ini dengan pantai yang lainnya.  Karena batu karang yang cukup besar inilah, sehingga pantai ini cukup diminati para pecinta panjat tebing. Ada banyak jalur panjat tebing yang bisa dilalui di karang-karang ini.

Wisata Becak - Jogja Becak Adventure

Wisata Becak - Jogja Becak Adventure


Cari Jalur Menuju Wisata Becak - Jogja Becak Adventure :

Wisata Becak - Jogja Becak Adventure
Jogja Becak Adventure, adalah komunitas tukang becak yang juga berprofesi sebagai pemandu wisata "City Tour" di kota Yogyakarta.
Para tukang becak ini biasa mengantar tamunya ke Kraton Yogyakarta, Malioboro, Tamansari, tempat Kerajinan Batik dan lain-lain. Berkeliling menikmati suasana Jogja dengan naik Becak. Mengunjungi tempat-tempat wisata dipandu oleh tukang becak Jogja yang tentu sangat mengenal kotanya, dari sosial dan budaya masyarakatnya sampai cerita dan profil tempat wisata yang Anda kunjungi.
Bercengkrama dengan keramahan dan keakraban di sepanjang jalan di setiap lorong kota Jogja, sunguh menjadi pengalaman yang mengesankan.

Komunitas ini dikoordinir oleh pak Harry Van Jogja yang sebelumnya pernah menulis buku "The Becak Way". Pak Harry yang juga salah satu dari tukang becak ini, memang berupaya memberikan pengalaman tersendiri kepada wisatawan yang berkunjung ke Jogja dengan Wisata Becak. Beliau juga aktif di media internet seperti jejaring sosial Facebook dan Twitter untuk memudahkan para pelanggannya.

Egrang, Permainan Tradisional yang Makin Tersingkirkan


Berbeda dengan anak-anak jaman sekarang yang hanya mengenal beragam permainan elektronik, sewaktu saya kecil kecil dulu harus melakukan sedikit usaha sebelum bisa menikmati sebuah permainan. Mulai dari mencari pelepah pisang untuk dibuat layaknya pistol-pistolan, menggunakan kaleng yang diikat karet di sebuah kayu untuk dijadikan mobil-mobilan, sampai menggunakan batang bambu untuk seseruan di permainan egrang. Lantaran dibuat dengan menggunakan keringat sendiri, rasanya permainan tersebut berlangsung sangat seru. Sehingga kerap tak sadar mentari sudah mulai berlabuh ke peraduan.
Egrang sejatinya dimainkan oleh anak-anak hampir di seluruh penjuru Indonesia namun dengan julukan yang berbeda. Mulai dari Tengkak-Tengkak di Sumatera Barat, Ingkau di Bengkulu, Batungkau di Kalimantan Selatan hingga Tilako di Sulawesi Tengah. Kendati memiliki perbedaan nama, namun media permainannya tetap sama. Menurut Baosastra Djawa karangan W.J.S Poerwadarminto terbitan tahun 1939, egrang-egrangan berarti dolanan atau permainan yang menggunakan batang kayu atau bambu yang diberi pijakan untuk berjalan.
Dengan menggunakan dua bilah bambu apus atau wulung yang lurus dan sudah tua sepanjang 2 meter yang dilubangi dengan jarak sekitar 30 – 50 cm (atau bisa lebih tinggi jika yang memainkannya punya nyali). Lubang tersebut dilesakkan potongan bamboo lain sepanjang 20 – 30 cm untuk dijadikan pijakan. Pemilihan bambu sebagai media kreasi bisa jadi karena material tersebut mudah dijumpai di lingkungan sekitar tempat mereka tinggal atau bahkan di tepian sungai.
Jika di Pulau Jawa Egrang hanya dipakai pada sebuah permainan biasa tanpa diimbuhi aura kompetisi, di Sulawesi Tengah, Tilako atau Egrang diklasifikasikan menjadi dua permainan. Adu balap atau saling menjatuhkan dengan cara saling memukul kaki bambu. Dalam permainan adu balap Tilako, masing-masing pemain berdiri di atas garis yang sama dan saling pacu menuju ke garis finish. Pemain yang lebih dulu mencapai finish otomatis akan menjadi pemenang. Sementara di permainan lainnya, dua orang pemain yang mendapat giliran akan saling berhadapan dan berusaha saling menjatuhkan dengan cara mengadu kaki bambu. Pemain yang mampu bertahan di atas Tilatolah yang jadi pemenang.
Namun sayangnya, belakangan permainan Egrang tampak kurang diminati. Selain disebabkan maraknya permainan-permainan elektronik, menjamurnya berbagai pusat perbelanjaan yang biasanya dilengkapi dengan pusat permainan juga mengakibatkan permainan tradisional seperti Egrang menjadi kian tersingkirkan. Untungnya masih ada segelintir orang yang peduli terhadap kelesatrian Egrang masih memainkannya walau hanya di gelaran-gelaran tertentu. Seperti perayaan Hari Kemerdekaan alias 17-an dan kegiatan-kegiatan seni dan budaya. Jangan biarkan permainan ini punah termakan zaman ya..

Makna Kematian di Bumi Lakipadada


Matahari sudah mulai condong ke barat, ketika mini bus yang penulis tumpangi menerobos jalan bebatuan menuju Lembang Tumbang Datu di Kecamatan Sangalla’ Utara Kabupaten Tana Toraja, akhir tahun lalu. Rasa penasaran yang tinggi akan kehebatan cerita upacara adat kematian Rambu Solo’ yang sudah mendarah daging di masyarakat Toraja menjadi pembanding akan kebosanan menempuh perjalanan yang sungguh tak mengenakan diatas mini bus.
Sekitar 45 menit perjalanan dari Makale, ibu kota Tana Toraja, Sulawesi Selatan akhirnya tiba juga di lokasi perayaan rambu solo’. Bayangan akan suasana mengharu biru yang akan nampak dalam setiap kematian, nyatanya tidak selalu benar dalam untuk masyarakat Toraja. Lebih terlihat sebagai ajang silaturahmi yang mempertemukan sanak saudara yang sudah lama tak bertemu, dan memang itulah salah satu tujuan perayaan kematian rambu solo’ yang merupakan warisan megalitukum atau zaman batu itu.
Upacara adat rambu solo’ di Sangalla’ yang penulis datangi adalah keluarga besar Tongkonan Karuaya Tumbang Datu dengan generasinya yang kesekian. Almarhum Johanis Ne’ Rapa’ atau lebih sering disapa dengan panggilan Ne’ Rapa’-lah yang upacaranya saat ini dirayakan oleh keluarga. Meninggal dunia Maret 2010 dalam usia yang ke 75 tahun, tubuh Ne’ Rapa’ yang sudah sembilan bulan berada didalam rumahnya di pinggiran Kecamatan Sangalla’ diturunkan dan digirin menempati tongkonan keluarganya yang berjarak 3 kilometer.
Di Toraja atau di Bumi Lakipadada, dengan upacara adat rambu solo’-nya, setiap langkah yang dilakukan memiliki makna dan nama tersendiri. Seperti penurunan mayat tersebut, disana disebut sebagai ma‘popengkalo alang yang bermakna kematian yang dialami seseorang telah memasuki fase-fase terakhir. Satu yang unik dari setiap kematian yang terjadi di Toraja, seseorang yang meninggal dunia seperti Ne’ Rapa’ tadi yang terjadi beberapa bulan bahkan tahun lalu, masih dianggap hidup sebelum menyelesaikan upacara adat rambu solo’.
Selama berbulan-bulan, tubuh yang kaku tersebut disimpan diatas rumah dan diperlakukan layaknya orang hidup. Diberi makan, minum, diberi pakaian, bahkan harus ditemani bercerita setiap saat. Karena menurut keyakinan leluhur orang Toraja, orang mati itu tidak dianggap mati tetapi sedang sakit dan lemah. Baru setelah diselenggarakan upacara rambu solo’ dengan mengorbangkan kerbau dan babi orang tersebut dianggap pergi untuk selamanya.
Kebudayaan orang Toraja memang tergolong kuat. Warisan-warisan leluhur mereka masih tetap dipertahankan hingga saat ini, padahal sebagian besar orang Toraja telah memiliki agama dan keyakinan, namun adat dan kebiasaan dalam setiap upacara tetap dipertahankan. Jumlah pemeluk agama ‘nenek moyang’ atau lebih dikenal dengan sebutan aluk todolo di Toraja tinggal sedikit, kalau pun ada hanya yang berada dipedalaman yang jauh.
Namun upacara-upacara adat seperti upacara kematian masih dilaksanakan, walau ada beberapa hal yang membedakan atau sengaja dihilangkan karena biasanya bertentangan dengan keyakinan orang tersebut. Seperti Ne’ Rapa’ yang telah memeluk agama Katolik, atraksi budaya sisemba atau adu kaki dihilangkan karena tidak sesuai dengan ajaran agama Ne’ Rapa’, namun kebiasaan mappasilaga tedong atau adu kerbau tetap dilakukan dan menjadi hiburan bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Secara umum, upacara rambu solo’ atau upacara penyempurnaan kematian menurut keyakinan orang Toraja, memiliki tujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan, disebut dengan Puya, yang terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia.
Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggap upacara ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (deata). Maka dari itu, rambu solo’ bagi mereka merupakan kewajiban sehingga dengan cara apapun upacara ini akan dilaksanakan sebagai persembahan terakhir bagi orang tua mereka.
Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau yang disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi.
Dulunya, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Namun seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampanan ekonomi. Saat ini, sudah banyak masyarakat Toraja dari strata sosial rakyat biasa menjadi hartawan, sehingga mampu menggelar upacara ini.
Puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah lapangan khusus. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (ma‘tudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (ma‘popengkalo alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma‘palao).
Ada juga atrakasi budaya yang dipertontonkan, di antaranya adu kerbau (mappasilaga tedong), dimana kerbau-kerbau yang akan dikorbankan terlebih dahulu diadu dan menjadi hiburan masyarakat, adu kaki (sisemba) yang biasanya dilakukan oleh dua kelompok masyarakat untuk mempertahankan harga diri, belakangan atraksi ini dihilangkan.
Sementara itu upacara rambu solo’ juga harus dipentaskan beberapa musik tradisional, seperti pa‘pompan, pa‘dali-dali dan unnosong, serta beberapa tarian, seperti pa‘badong, pa‘dondi, pa‘randing, pa‘katia, pa‘papanggan, passailo dan pa‘pasilaga tedong.
Satu hal yang menarik karena kerbau yang disembelih dengan cara yang unik dan merupakan ciri khas mayarakat Tana Toraja, yakni menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya berkisar antara 100-350 juta perekor. Selain itu, juga terdapat pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu ketika iring-iringan para pelayat yang sedang mengantarkan jenazah menuju Puya, dari kejauhan tampak kain merah panjang bagaikan selendang raksasa membentang di antara pelayat tersebut.
Kebiasaan masyarakat Toraja menguburkan mayat di lereng bukit bebatuan ternyata punya makna tersendiri. Mereka percaya, dengan menguburkan mayat dibebatuan tidak akan merusak lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian masyarakat setempat. “Kita tidak ingin merusak lahan produktif yang ada, makanya lereng bebatuan menjadi tempat yang pas untuk menguburkan mayat,” ungkap Paulus Pasang Kanan, Tokoh Adat Tana Toraja.
Di Toraja sendiri, ada lima cara pemakaman yang dilakukan yakni erong atau kuburan yang terbuat dari kayu yang diselipkan kedalam bebatuan, liang pahat yakni gunung batu yang sengaja dipahat untuk menyimpan mayat, pattahe yang juga dilakukan di gunung bebatuan namun menempati gua yang sudah terbentuk, ada pula cara penguburan pia untuk anak kecil berusia kurang dari lima tahun yang diselipkan kedalam kayu hidup yang tengahnya dilubangi lalu ditutup kembali sehingga tidak nampak jika itu adalah kuburan, serta yang terakhir dengan cara penguburan tanah yang lasim dilakukan masyarakat beragama muslim di Toraja.
Jika ingin menyaksikan upacara adat rambu solo’ tersebut, pemerintah setempat telah mengatur jadwal khusus setiap akhir tahun. Even yang diberi nama Lovely Desember tersebut telah memberika kemudahan bagi setiap wisatawan untuk menjelajahi pagelaran adat yang dilakukan. Jadi, datanglah ke Toraja saat akhir tahun, ada banyak kejutan di bumi Lakipadada tersebut.