Friday, July 20, 2012

Pantai Wisidi Kutanya Gresik


pantai wisidi

Pantai Kuta Bali sudah tak diragukan lagi keindahannya dan tentunya membuat wisatawan betah di sana.
Namun, kini warga Jawa Timur tidak perlu bersusah payah pergi ke Kuta jika ingin menikmati suasana indahnya pasir putih, jernihnya air laut, dan deburan ombak. Karena, itu semua bisa dinikmati di obyek Wisata Segoro Indah Dalegan (Wisidi).
Wisidi tepatnya berada di Desa Dalegan, Kecamatan Panceng, yang terletak kurang lebih 40 km dari pusat kota Gresik. Obyek wisata yang berhadapan dengan Laut Jawa ini dipenuhi wisatawan dan tidak jarang pula wisatawan dari mancanegara ikut menikmati suasana deburan ombak yang ramah dengan menggunakan pelampung.
Seperti pada hari libur nasional pelaksanaan pemilu presiden ini. Seusai menggunakan hak pilihnya, warga memadati pantai Wisidi hingga mencapai ribuan pengunjung, Rabu (8/7).
Pada bulan-bulan tertentu, pantai ini bisa menjadi salah satu tempat alternatif bagi peselancar. Untuk menikmati indahnya pantai hingga melihat matahari terbenam, kita tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal. Cukup membeli tiket seharga Rp 2.500. Obyek wisata yang mempunyai luas lebih kurang 2 hektar itu menjadi salah satu andalan Kota Gresik, khususnya bagi Desa Dalegan, karena mampu memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi pembangunan desa.
“Dana yang didapat dari obyek wisata ini telah bisa digunakan untuk memberi subsidi bagi kas 41 rukun tetangga (RT), enam rukun warga (RW) setempat, pembangunan jalan dan juga pembangunan dua balai dusun,” ujar Muzarodin, Kepala Desa Dalegan.
Obyek wisata pantai ini dibuka untuk umum mulai tahun 2003 dan hingga kini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pantai ini juga tak jarang digunakan untuk latihan voli pantai atlet Jatim. Ke depannya, wisata pantai ini akan diperluas sehingga bisa memberikan lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar dan mampu memperkenalkan Kota Gresik di dunia internasional.

Ke Belitong Tak Lengkap Tanpa Kopi


belitong kopi akiong

Banyak orang mengatakan, Anda tak sah disebut pernah mengunjungi Pulau Belitung jika belum mencicipi secangkir kopi di sana. Minum kopi adalah bagian dari kebudayaan masyarakat Belitung. Tak heran jika warung kopi banyak bertebaran di pulau itu.
Belitung, pulau kecil penghasil timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara administratif dibagi menjadi dua, yaitu Belitung dengan ibu kota Tanjung Pandan dan Belitung Timur dengan ibu kota Manggar.
Begitu lekatnya budaya minum kopi sampai-sampai Kota Manggar menjadikan warung kopi sebagai ikon baru industri pariwisata. Hari ini, Rabu (19/8), kota itu menggelar acara massal minum kopi susu sekaligus mencanangkan Manggar sebagai “Kota 1001 Warung Kopi”
Di kota Manggar, puluhan warung kopi bisa dijumpai berjajar di sepanjang ruas jalan di kawasan pusat kota atau Pasar Manggar. Meja dan bangku tempat warga berkumpul minum kopi berjejer memenuhi pinggir jalan. Tinggal memilih warung kopi mana yang Anda suka.
Kedai Kopi Ake
Begitu pula di Tanjung Pandan, warung kopi atau kedai kopi amat mudah dijumpai. Konon kata orang, Kedai Kopi Ake di Pasar Tanjung Pandan amatlah kesohor. Ke sanalah saya mencicipi secangkir kopi saat mengunjungi Tanjung Pandang beberapa waktu lalu.
Jangan bayangkan kedai kopi ini berupa bangunan berdesain keren ala kafe-kafe di Jakarta. Kedai kopi ini terletak di tengah bangunan ruko berdinding kusam yang sebagian catnya mengelupas. Di tengah ruko itu ada sepetak pelataran. Di situlah kedai kopi ini berdiri selama puluhan tahun.
Ada banyak gelas di depan warung itu. Bangunannya jauh dari bagus. Beberapa bagian dinding warung itu gompal. Sementara atapnya dari seng yang sebagian sudah berkarat berwarna coklat tua kehitaman. Di depan warung itu ada meja-meja kecil. Sebagian meja kayu sebagian lagi meja bundar dari semen. Jika ingin duduk di dalam juga ada meja panjang yang menempel di dinding.
Bukan sekadar minum kopi
belitongkopi
Di Belitung, seperti halnya kebudayaan pesisir di Sumatera, orang minum kopi bukan sekadar menikmati kopinya. Jauh lebih penting dari rasa secangkir kopi adalah interaksi sosial dalam momen minum kopi itu. Maka minum kopi di kedai kopi akan kehilangan makna kalau kita menikmatinya sendirian. Berbeda dengan kedai kopi ala Starbucks di Jakarta di mana orang datang sendiri lalu membuka laptop.

Dalam tradisi Melayu pesisir, minum kopi adalah momen berbagi cerita dan informasi. Juga momen untuk diskusi. Tak heran kalau menghabiskan secangkir kopi bisa mamakan waktu berjam-jam.
“Kalau Anda mau tahu ada apa di Belitung hari ini, tidak perlu membeli koran. Datang saja ke kedai kopi. Semua informasi akan Anda dapatkan di sana,”jelas Kusumah, pemandu perjalanan kami dari agen perjalanan setempat.
Kawasan warung kopi Ake dikenal dengan sebutan Kafe Senang. Entah dari mana asal-usul itu. Dari dulu sudah disebut demikian. Warung kopi Ake sendiri sudah ada di tempat itu selama empat generasi. Warung itu kini dijaga oleh Akiong (53), anak Ake (75), yang sekarang tinggal di Jakarta. Warung kopi pertama kali didirikan oleh kakek Ake. Akiong tidak tahu tahun berapa persisnya warung kopi ini berdiri.
Di Belitung secangkir kopi disajikan dengan cara yang khas. Bubuk kopi tidak dituang satu-satu ke masing-masing gelas melainkan diaduk dalam sebuah gelas besar. Dari gelas besar itu kopi dituangkan ke dalam gelas dengan saringan berbentuk seperti kaus kaki. Dengan cara ini ampas kopi tidak ikut dalam gelas yang disajikan kepada pelanggan.
Saya pernah minum kopi di beberapa kedai kopi di Jambi, Lhokseumawe, dan Medan. Dengan kadar kekentalan yang berbeda cita rasa kopinya sama. Di warung Ake, kopi yang disajikan tidak terlalu pekat, meski warnanya hitam. Selain panas, kopi di sana juga lazim disajikan dingin dengan es atau dicampur susu kental manis.

Tips Tetap Trendy Saat Liburan di Pantai


tips liburan

Apabila minggu ini kamu menjatuhkan liburan pergi ke pantai, maka pastikan kamu membawa perlengkapan seperti kamera, sunblock serta baju renang.
Tetapi bagaimana dengan pilihan wardrop selama berlibur? Walaupun berlibur, bukan berarti kita tidak bisa bergaya, jangan berfikir hanya memakai baju gombrong, sandal jepit, celana pendek. Cobalah tampil beda diliburan kali ini.
Pertama-tama jika kamu berniat untuk berenang di laut, pastikan kamu membawa baju renang favorit. Kamu bisa membawa 2 pasang baju. Pilihan pertama, pilihlah yang bermotif garis vertikal agar terlihat lebih langsing. jangan lupa memakai kaca mata hitam, topi lebar serta sarung pantai. Dengan begitu kamu akan terlihat trendy.
Jika kamu tidak tertarik untuk ikut menceburkan diri ke laut, kenakanlah celana pendek serta baju berbahan tunik. Pergi kepantai tidak harus memakai tank top. Apabila kamu ingin memakai bikini, tambahkan atasan berbahan tipis untuk melapisi tubuh kamu. Dengan begitu kamu akan terlihat seksi.
Biasanya pergi kepantai tidak lepas dengan bermain pasir. Untuk itu kenakanlah dress pendek dengan kerah halter yang akan membuat kulit kamu mendapatkan tanning alami dari matahari.
Apabila kamu pergi kepantai hanya untuk menenangkan diri dari aktifitas bekerja, lebih tepat kamu mencari tempat di pinggir pantai untuk bersantai.
Busana yang tepat adalah summer dress berbahan tipis. Ini akan membuat terlihat girly. Jangan lupa membawa buku atau MP3 agar kamu bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan indahnya pantai. Selamat mencoba

Karimun Jawa – Berenang Bersama Hiu


Hiu. Hmm, siapa yang tak mengenal binatang jenis mamalia yang satu ini.  Keganasannya, tak usah diragukan lagi. Giginya yang tajam tentu saja bisa dengan mudah mengoyak mangsanya seketika, tak terkecuali manusia. Maka tak heran jika hiu merupakan  binatang laut yang paling ditakuti.

karimunjawahiuNah, di Pulau Menjangan besar Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, terdapat sebuah lokasi di mana kita justru bisa bercengkrama dengan hiu-hiu putih (carcharodon carsharias) tanpa rasa khawatir.
“Asal jangan dipegang ekornya. Kalau dipegang, ya iso gigit. Kalau arep megang cukup ngelus kepalanya saja. Nggak gigit kok,”  ujar Karso, salah satu awak perahu yang menjadi pemandu kami saat mengunjungi salah satu rumah apung di Pulau Menjangan Besar, Taman Nasional Karimun Jawa, Jepara, Minggu (29/6) kemarin.
Di rumah apung yang sekaligus menjadi tempat penginapan para wisatawan inilah, puluhan ikan hiu berukuran antara 1-1,5 meter dipelihara. Oleh pemiliknya, ikan hiu ini menjadi semacam hiburan bagi wisatawan yang menginap di rumah apung tersebut. Belakangan, seiring animo wisatawan mengunjungi lokasi tersebut, pihak pengelola rumah terapung mempersilakan wisatawan yang ingin menjajal adrenalin berenang bersama kumpulan hiu.
Untuk biaya masuk, pihak pengelola tak menetapkan biaya tiket. “Biasanya, biaya masuk untuk satu rombongan hanya Rp 20.000,” kata Karso.
Murah sekali bukan?! Apalagi tarif tersebut sudah termasuk peminjaman peralatan snorkling, seperti Goggle, snorkle, dan fin.
Lisa, salah satu mahasiswi asal Belanda yang tengah mengikuti pertukaran pelajar di Yogyakarta, mengaku, awalnya ia ketakutan berenang di kolam hiu berukuran sekitar 9 m x 9 m tersebut.  “Awalnya saya takut, tapi ini pengalaman yang luar biasa, kenapa saya tidak coba saja,” ujarnya dalam logat bahasa Inggris.
Sensasi inilah, yang juga memancing saya untuk uji nyali. Awalnya memang rada deg-degan, namun setelah mengetahui bahwa pemilik memberi makan yang cukup kepada mereka dan meyakinkan saya bahwa hiu-hiu itu jinak, saya pun akhirnya nyemplung ke kolam yang berisi sekitar sembilan ikan hiu itu.
Terdapat dua kolam ikan hiu di rumah apung yang dibangun sejak 18 tahun lalu itu. Kolam pertama, berukuran sekitar 3m x 7m, berada persis di depan wisma yang mengarah ke laut lepas. Di kolam ini, wisatawan tak diperkenankan berenang. Mengingat, selain dihuni hiu putih tapi juga terdapat ikan barakuda yang tergolong ganas.
Menurut Is (53), pengelola rumah terapung tersebut, terdapat sekitar belasan ikan beragam jenis. Namun, yang cukup banyak adalah hiu putih dan barakuda dengan beragam ukuran. “Ikan hiu yang paling gede ukuran 50 kg. Semua itu anak-anaknya. Induk mereka sudah mati. Tadinya ada empat. Tiga mati, satu dibawa ke Ancol,” kata Is, yang sudah bekerja di wisma milik Pak Yakobus selama 20 tahun itu.
Menurut Is, ikan-ikan itu merupakan hasil tangkapan para nelayan untuk kemudian dipelihara sebagai pemikat bagi tamu yang datang ke wisma tersebut.
Tamu atau pengunjung yang datang di wisma, hanya diperkenankan berenang di kolam berada samping kiri wisma. Selain terdapat hiu, di kolam ini juga ada seekor kura-kura berukuran cukup besar. Is, tak mengetahui secara rinci usianya, namun kura-kura tersebut sudah ada di kawasan wisma sejak 5 tahun lalu.
Selain di wisma yang dikelola Is, kolam hiu juga terdapat di wisma apung Jaya karimun, milik (alm) Ismarjoko. Di wisma apung ini, terdapat beberapa jenis hiu berbagai ukuran.
Menurut Diah, salah satu pengelola di wisma tersebut,  Hiu-hiu itu memang tergolong ganas. Namun dengan memberi makanan yang cukup dan teratur, ikan-ikan tersebut tak akan menyerang mereka yang ingin berenang di kolam hiu yang terdapat di wisma tersebut. “Ad juga sih yang berani berenang. Nggak apa-apa sih. Kan sudah dikasih makan yang cukup dan teratur. Biasanya kalau sudah kekenyangan mereka sih jinak-jinak aja. Asal jangan ada luka pas turun ke kolam,” katanya.
“Biasanya orang-orang bule yang berani berenang di sini,” tambahnya.
Tak sulit untuk mencapai wisma apung di Pulau Menjangan Besar tersebut. Dari pelabuhan nelayan di desa Karimunjawa hanya menempuh waktu tak lebih dari sepuluh menit dengan menggunakan perahu carteran milik para nelayan, yang tarifnya berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 300.000 untuk penyewaan sehari penuh.
Kepulauan Karimunjawa Jawa terdiri atas 27 pulau-pulau kecil yang terletak di laut Jawa. Lokasinya sekitar 83 km utara Kota Jepara. Dari 27 pulau, hanya lima pulau yang berpenghuni, yakni Pulau Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk, dan Genting.
Selain menawarkan sensasi bercengkerama dengan ikan hiu, kawasan pasir putih yang menghampar di bibir pantai pulau menjangan kecil menjadi daya tarik tersendiri. Lokasi ini juga bisa digunakan sebagai kawasan terapi air laut.
Ada dua alternatif jalur transportasi laut yang bisa digunakan menuju Karimunjawa, yakni dengan menggunakan KMP Muria dari Pelabuhan Kartini Jepara atau kapal cepat Karimunjawa dari pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Namun angkutan yang satu ini, sejak sebulan lalu, dalam kondisi rusak dan tengah diperbaiki. Ini yang menyebabkan lonjakan penumpang di KMP Muria selama sebulan terakhir. Dalam sepekan, terdapat dua kali jadwal pelayaran dari Jepara ke Karimunjawa, yakni Rabu dan Sabtu.
Nah, jika Anda berkesempatan mengunjungi Karimunjawa, ada baiknya mencoba tantangan yang bisa menguji adrenalin anda. Dijamin akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan.

Pantai Tanjung Bira


tanjung bira
Tanjung bira terkenal dengan pantai pasir putihnya yang cantik dan menyenangkan. Airnya jernih, baik untuk tempat berenang dan berjemur. Disini kita dapat menikmati matahari terbit dan terbenam dengan cahayanya yang berkilau nenbersit pada hamparan pasir putih sepanjang puluhan kilometer.

Pantai bira yang sudah terkenal hingga mancanegara, kini sudah ditata secara apik menjadi kawasan wisata yang patutu di andalkan. Berbagai sarana sudah tersedia, seperti perhotelan, restoran, serta sarana telekomunikasi, pantai bira berlokasi sekitar 41 km kearah timur dari kota bulukumba. dengan pelabuhan penyeberangan fery yang menghubungkan daratan Sulawesi Selatan dengan pulau selayar.
Tanjung Bira merupakan pantai pasir putih  yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan. Pantai ini termasuk pantai yang  bersih, tertata rapi, dan air lautnya jernih. Keindahan dan kenyamanan pantai ini terkenal hingga ke mancanegara. Turis-turis asing dari berbagai negara banyak yang berkunjung ke tempat ini untuk berlibur.
Pantai Tanjung Bira sangat indah dan  memukau dengan pasir putihnya yang lembut seperti tepung terigu. Di lokasi,  para pengunjung dapat berenang, berjemur, diving dan snorkling. Para pengunjung juga dapat menyaksikan  matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama, serta dapat menikmati  keindahan dua pulau yang ada di depan pantai ini, yaitu Pulau Liukang dan Pulau  Kambing.
Tanjung Bira terletak di daerah ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Bonto Bahari,  Kabupaten Bulukumba.
Tanjung Bira terletak sekitar 40 km dari  Kota Bulu Kumba, atau 200 km dari Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar  ke Kota Bulukumba dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum berupa mobil Kijang, Panther atau Innova dengan tarif sebesar Rp. 35.000,-. Selanjutnya,  dari Kota Bulukumba ke Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan mobil  pete-pete (mikrolet) dengan tarif berkisar antara Rp. 8.000,- sampai – Rp.  10.000,-. Total waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3 –  3,5 jam.
Jika pengunjung berangkat dari Bandara  Hasanuddin, langsung menuju ke terminal Malengkeri (Kota Makassar) dengan  menggunakan taksi yang tarifnya sekitar Rp. 40.000,-. Di terminal ini kemudian naik bus tujuan Bulukumba atau yang langsung ke Tanjung Bira.
Di kawasan wisata Tanjung Bira, angkutan  umum beroperasi hanya sampai sore hari. Jika pengunjung harus kembali ke Kota Makassar pada sore itu juga, di sana  tersedia mobil carteran (sewaan) dengan tarif Rp. 500.000,-.
Biaya tiket masuk ke lokasi Pantai Tanjung  Bira sebesar Rp. 5.000,-.
Kawasan wisata Pantai Tanjung Bira dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti restoran, penginapan, villa, bungalow, dan hotel dengan tarif mulai dari Rp. 100.000,- hingga Rp. 600.000,-  per hari. Di tempat ini juga terdapat persewaan perlengkapan diving dan snorkling dengan tarif Rp. 30.000,-. Bagi pengunjung yang selesai berenang di pantai,  disediakan kamar mandi umum dan air tawar untuk membersihkan pasir dan air laut  yang masih lengket di badan. Bagi pengunjung yang ingin berkeliling di sekitar pantai, tersedia persewaan motor dengan tarif Rp. 65.000,-. Di kawasan pantai  juga terdapat pelabuhan kapal ferry yang siap mengantarkan pengunjung yang ingin berwisata selam ke Pulau Selayar.